Rasulullah SAW selalu mencontohkan kepada para sahabatnya
untuk berbaik sangka terhadap semua orang.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa suatu ketika Syeih Muhyidin berkata : Tidak begitu katanya. Para hadirin bertanya : lalu ia berkata apa ? jawab Syeih Muhyidin : Demikian pula hatimu setelah mendapat kehormatan dari Alloh dijadikan tempat Iman, maka janganlah rela ditempati najis-najis, syirik, maksiat dan cinta dunia. mengutus Umar untuk
menarik zakat, tetapi Ibnu Jamil, Khalid bin Walid, dan Abbas paman Rasulullah
tidak menyerahkan (zakat).
Sehingga beliau bersabda, "Tidak ada sesuatu yang membuat Ibnu Jamil
enggan untuk menyerahkan zakat, kecuali karena dia fakir, kemudian Allah
menjadikannya kaya."
"Adapun Khalid, sesungguhnya kalian telah berbuat
zalim terhadapnya (karena) ia menginfakkan baju besi dan peralatan perangnya di
jalan Allah. Adapun Abbas, aku telah mengambil zakatnya dua tahun yang
lalu." (HR Bukhari dan Muslim).
Rasul SAW senantiasa memperingatkan umat Islam agar menjauhi prasangka buruk.
"Jauhilah prasangka karena sesungguhnya prasangka itu pembicaraan yang
paling dusta. Janganlah kalian menyadap (pembicaraan kaum), memata-matai
mereka, berlomba-lomba (dalam hal yang tidak baik), saling mendengki, saling
membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang
bersaudara." (HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).
Al-Hafidz mengatakan bahwa Khaththabi berpendapat bahwa yang dimaksud prasangka
dalam hadis tersebut adalah benar-benar prasangka, bukan sesuatu yang terlintas
dalam benak pikiran, sebab hal itu di luar kemampuan seseorang.
Prasangka yang dimaksud oleh Khaththabi adalah prasangka yang menetap dalam
hati. Lintasan hati adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari manusia.
"Allah mengampuni prasangka yang terlintas dalam hati manusia selama
mereka tidak membicarakan atau melakukannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Qurthubi mengatakan, yang dimaksud dengan prasangka (yang terlarang) adalah
tuduhan tanpa alasan. Misalnya menuduh seseorang melakukan zina tanpa ada bukti
nyata. Karena itu, kata azh-zhann dalam redaksi hadis ini, dihubungkan dengan
larangan untuk memata-matai orang lain.
Jika seseorang memiliki sedikit prasangka yang mengarah pada tuduhan di dalam
hatinya, ia akan berupaya untuk mewujudkan tuduhan itu. Dia akan mencari-cari
kesalahan orang yang dituduh dengan memata-matainya. Karena, langkah-langkah
itu dilarang agama.
"Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya prasangka itu dosa, dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara
kamu yang menggunjing sebagian yang lain..." (QS al-Hujarat: 12).
Dalam kehidupan masyarakat kita akhir-akhir ini banyak kejadian yang bersifat
prasangka dan tuduhan di antara sesama warga (su'uzhon). Padahal, berbagai
persoalan tersebut memerlukan penelitian, klarifikasi (tabayyuni) sehingga
duduk persoalan jelas dan kita dapat menyikapinya dengan bijaksana agar tidak
menyalahkan orang lain.
Karena itu, kearifan dari berbagai pihak khususnya para tokoh dan pemimpin
masyarakat merupakan sikap Nabi yang selalu husnuzhan dalam menyikapi berbagai
persoalan sehingga masalah menjadi cair, jernih, dan sejuk dan akhirnya
persoalan dapat diselesaikan dengan damai dan adil. Wallahu 'alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar